Inikah Motif Siswa Berprestasi Gantung Diri Pakai Tali Pramuka?

Kanitreskrim Polsek Gubeng IPTU Joko Soesanto menunjukkan tali pramuka yang dipakai gantung diri oleh korban. (dida tenola/jawapos.com)

Kanitreskrim Polsek Gubeng IPTU Joko Soesanto menunjukkan tali pramuka yang dipakai gantung diri oleh korban. (dida tenola/jawapos.com)

POJOKSATU.id, SURABAYA – Siswa kelas XI SMAN 16 Surabaya berinisial APA (17) mengakhiri hidupnya dengan cara gantung diri memakai tali pramuka. Motif siswa berprestasi itu bunuh diri masih menyisakan misteri.

Selama ini korban dikenal sebagai pelajar yang cerdas dan penurut. Dia telah mengoleksi beberapa piagam penghargaan di rumahnya di Jalan Juwingan Surabaya.

Pelajar kelas XI itu ditemukan tewas gantung diri di lantai 2 rumahnya. Dia memakai tali pramuka untuk mengakhiri hidupnya.

Berdasar pantauan JawaPos.com di sekitar rumah korban, teman-teman sekolah APA terlihat berdatangan. Sekitar pukul 13.30 WIB, jenazah APA disalatkan di masjid, sekitar 100 meter dari rumahnya.

Diduga korban nekat mengakhiri hidup karena tekanan soal pendidikannya. Hal ini dituturkan oleh salah seorang kolega orang tua korban yang enggan disebutkan namanya.

Dia mengatakan bahwa sejak masuk ke SMA, sosok APA menjadi berubah. Dia lebih pendiam.

“Anaknya ini berprestasi, di rumah banyak piala dan piagam. Tapi sejak sekolah di SMAN 16, dia seperti nggak kerasan,” ucapnya kepada JawaPos.com, Sabtu (16/12).

Sepengetahuannya selama ini, Romli, ayah korban, mendidiknya dengan sangat disiplin.

“Pernah dileskan waktu SMP, tapi nggak ngatrol nilainya. Terus bapaknya kurang puas, akhirnya lesnya dihentikan dan diajari sendiri di rumahnya,” lanjutnya.

JawaPos.com sendiri berusaha mendapat keterangan langsung dari keluarga APA. Namun mereka tertutup, enggan berkomentar apa-apa.

Dugaan motif tekanan pendidikan itu juga diperkuat dengan pengakuan Benny (nama samaran), teman SMA korban di kelas X. Dia mengatakan bahwa, APA memang tidak kerasan bersekolah di SMAN 16.

“Pilihan masuk SMA itu bukan pilihannya sendiri. Dia sering cerita kalau sebenarnya kepingin masuk SMK. Akhirnya dia jadi tertutup, tapi anak-anak selalu berusaha mengajaknya bergaul, diajak main biar nggak asosial,” tutur Benny.

Senin lalu (11/16), Benny sempat mengajak APA untuk bermain ke rumahnya di kawasan Rungkut bersama teman-teman lainnya. Saat itu, APA terlihat ceria. “Ya ngobrol-ngobrol biasa, makan-makan,” tambahnya.

Seperti diberitakan sebelumnya, APA ditemukan tewas gantung diri dengan menggunakan tali pramuka, Sabtu (16/12) pagi. Polsek Gubeng yang menerima laporan telah melakukan olah TKP. Saat mereka datang, jenazah APA sudah diturunkan oleh ayahnya.

(did/jpc/pojoksatu)


Feeds