Setya Novanto Kirim Surat Minta Bantuan Presiden, Ini Jawaban Fredrich Yunadi

Setya Novanto saat akan keluar dari gedung KPK bersama pengacara Fredrich Yunadi. Foto via jawapos..com

Setya Novanto saat akan keluar dari gedung KPK bersama pengacara Fredrich Yunadi. Foto via jawapos..com

POJOKSATU.id, JAKARTA – Saat berkasnya kasus korupsi E-KTP sudah dilimpahkan Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK), Setya Novanto masih saja terus berusaha lolos dari jeratan hukum.

Salah satunya yakni dengan kembali menempuh praperadilan untuk kali kedua setelah sebelumnya berhasil menjadi jalan keluarnya.

Namun, ada satu cara lain yang diduga juga ditempuh oleh Ketua DPR RI itu.

Yakni dengan berkirim surat ke Presiden Joko Widodo yang intinya meminta perlindungan dari orang nomor satu di Indoensia Indonesia itu.

Eh…Setya Novanto Kirim Surat Minta Perlindungan Presiden Joko Widodo

Foto surat yang ditandatangani Novanto itu sendiri kemudian beredar luas.

Dalam surat tertanggal Selasa 5 Desember 2017 itu, Ketua Umum Partai Golkar itu mengaku sudah dikrimanalisasi sejumlah pihak.

Tujuannya, tidak lain untuk menjadikannya sebagai pesakitan di Pengadilan Tipikor.

Setya Novanto Kirim Surat Minta Bantuan Presiden Joko Widodo, Ini Penampakan Suratnya

Di dalam surat yang ditujukan langsung kepada presiden itupun berharap agar mendapat bantuan dalam kasus yang sedang dihadapinya.

Dikonformasi, kuasa hukum Novanto Fredrich Yunadi mengaku tak tahu-menahu dan kaget perihal surat tersebut.

“‎Waduh saya tidak tahu, ini baru baca,” ujar Fredrich saat dikonfirmasi, Kamis (7/12).

Hakim Kusno: Praperadilan Setya Novanto Bisa Gugur Sewaktu-waktu

Fredrich mengaku, ia terakhir kali bertemu dengan kliennya itu di rutan KPK dan sama sekali tak membicarakan surat dimaksud.

“Jam 15.00 WIB saya masih ketemu, beliau tidak cerita, tidak ada pembicarana ke situ (surat) sama sekali,” katanya.

Berikut kutipan lengkap surat tersebut:

Agar Mudah, Ini Saran Hakim Praperadilan Setya Novanto kepada KPK

Kepada YTH
Bapak Presiden Joko Widodo
Di Jakarta

Salam Hormat,

Semoga Bapak dalam keadaan sehat dan selalu diberikan kekuatan serta perlindungan oleh Allah SWT Tuhan Yang Maha Esa untuk menjalankan amanah memimpin negeri ini.

Barsama ini perkenankan saya menyampaikan kondisi dari keadaan yang saya hadapi.

Tambah Kejepit, Hakim Kusno Ogah Turuti Permintaan Setya Novanto, Alasannya Menohok

Pertama. Di bawah kepemimpinan saya, keputusan Partai Golkar untuk mendukung Bapak sebagai Presiden Republik Indonesia periode 2019-2024 adalah keputusan sah, dan dilakukan dalam forum yang sah sebagai keputusan organiasi. Meskipun memang ada segelintir pihak tertentu yang tidak suka Partai Golkar mencalonkan bapak kembali sebagai Presiden Republik Indonesia.

Kedua. Di bawah kepemimpinan saya, DPR RI telah berusaha memberikan dukungan pada berbagai program pemerintah, meskipun tidak mudah menyatukan pimpinan dan anggota parlemen. Namun demikian saya telah berusaha sekuat tenaga sebagaimana komitmen untuk mendukung program pembangunan Bapak, demi kelancaran proses kepemimpinan saat ini dan di masa yang akan datang.

Ketiga. Dikarenakan usaha itulah saya mengalami kriminalisasi seperti sekarang kasus ini terjadi tahun 2010, tetapi diungkap kembali atas rekayasa kelompok tertentu dengan menggunakan KPK.

Keempat. Saya mohon perhatian Bapak Presiden sesungguhnya peristiwa yang menimpa diri saya ini bermuara pada keputusan dukung-mendukung Presiden Republik Indonesia untuk Pemilu 2019. Oleh sebab itu, dapat diyakini bahwa ujung dari peristiwa kriminalisasi ini adalah untuk menggagalkan kepemimpinan Bapak sekarang maupun di masa yang akan datang.

Demikian disampaikan kepada Bapak Presiden dan sebagai warga masyarakat yang telah menjadi korban kriminalisasi atas rekayasa kelompok tertentu, saya mohon doa dan perlindungan hukum dari Bapak Presiden selaku Panglima Tertinggi dalam penegakan hukum di negara yang kita cintai ini.

Hormat saya,

Drs. Setya Novanto, Ak. MM.

(gwn/JPC/pojoksatu)


Feeds