Dedi Mulyadi : “Pancasila Harus Jadi Pedoman Perilaku, Bukan Simbol!”

Bupati Purwakarta Dedi Mulyadi menyampaikan amanat di peringatan Hari Kesaktian Pancasila di Bale Paseban Purwakarta, Senin (2/10). (FOTO : Humas Pemkab Purwakarta)

Bupati Purwakarta Dedi Mulyadi menyampaikan amanat di peringatan Hari Kesaktian Pancasila di Bale Paseban Purwakarta, Senin (2/10). (FOTO : Humas Pemkab Purwakarta)

POJOKSATU.id, Purwakarta – Pancasila bukan hanya simbol semata ataupun hanya diucapkan semata akan tetapi harus menjadi nilai aplikatif, bahkan dalam system kenegaraan maupun hukum harus dirumuskan pula kerangka berpikir pancasila yang diaplikatifkan dalam kehidupan sehari-hari.

“Kita berbicara Pancasila harus menjadi nilai dalam kehidupan dalam aplikasikan dalam bernegara dan berbangsa bukan hanya jadi slogan semata,” ungkap Bupati Purwakarta Dedi Mulyadi dalam amanatnya di peringatan Hari Kesaktian Pancasila di Bale Paseban Purwakarta, Senin (2/10).

Dedi pun menilai kerangka berpikir pancasila harus sudah menjadi dasar dalam sistem kehidupan. Bukan hanya menjadi simbol negara semata tapi kaidah nilainya bisa mengatur masyarakat.

Menurut Dedi dari sila pertama saja bagaimana Pancasila membangun semangat toleransi dalam berkeyakinan ditambah dalam berkehidupan dalam sesama, membangun semangat gotong royong melalui kaidah persatuan serta musyawarah dalam menghadapi masalah hingga membangun berkeadilan sosial dalam kehidupan bermasyarakat dan bernegara.

“Kalau kita berbicara pancasila kita harus menanamkan nilai – nilainya misalnya apakah hukum pidana atau perdata sudah berpikir pancasila atau belum karena kerangka pancasila harus tetap hidup,” ujarnya.

Dedi memberikan contoh nilai ketuhanan, kemanusian, persatuan,  permusyawaratan hingga berkeadilan merupakan kerangka berpikir luar biasa dimana pada jaman itu terjadi perdebatan sengit antara blok barat dan blok timur.

“Pancasila modal bangsa kita pendiri bangsa tahu bahwa system kenegaraan kita harus memiliki sendiri sebagai bentuk berdaulat dan kita bersyukur pada masanya itu ketika terjadi blok barat dan blok timur pancasila hadir sebagai system kenegaraan kita,” tuturnya.

Dalam peringatan hari kesaktian pancasila sendiri berlangsung cukup hikmat. Bahkan cukup unik dimana seluruh pegawai serta pejabat yang hadir menggunakan batik dalam kegiatan tersebut. “Kita gunakan batik karena bertepatan dengan hari batik nasional,” ujarnya.

(dia/pojoksatu)


Feeds