Teror Orang Gila: Begal Ulama Hingga Ibu Seret Anak Pakai Motor

KH Umar Basri dirawat di RS Al Islam Bandung. Foto ist

KH Umar Basri dirawat di RS Al Islam Bandung. Foto ist

POJOKSATU.id, JAKARTA – Teror orang gila semakin meresahkan warga. Mereka tak segan melukai diri sendiri dan orang lain. Bahkan, seorang ulama, Ustaz Prawoto meregang nyawa akibat dibegal orang gila.

Selain ulama, teror orang gila yang belakangan marak juga tega melukai saudaranya, menyeret putri kandungnya, hingga bakar diri.

Baru baru ini di Bogor ramai dibicarakan soal orang gila yang berulah hingga membacok saudaranya sendiri.

Sulaeman, warga Cigudeg harus mendapatkan luka bacok di bagian pipi setelah saudaranya yang mengalami depresi mengacungkan golok ke arah wajahnya.

Keluarga mengakui kalau pelaku selama ini depresi hingga tega melukai Sualeman yang masih memiliki hubungan saudara.

Tak cuma Sualeman yang jadi korban orang gila. Seorang ibu di Klaten juga tega menyeret anaknya pakai motor.

Peristiwa ini juga ramai dibicarakan dan menjadi viral, karena aksinya yang terekam CCTV sontak beredar luas di media sosial.

Adalah S, wanita berusia 30 tahun asal Dusun Balong, Desa Paseban, Kecamatan Bayat Klaten, tega menyakiti anaknya dengan menyeret sang putri pakai sepeda motor.

Warga yang mengetahui pun spontan meneriaki pelaku hingga yang bersangkutan mengalami tabrakan.

Namun beruntung, putrinya dapat diselamatkan lebih dulu, meski mengalami luka di bagian kaki lantaran terkena aspal.

“Itu orang ibu-ibu umur 30-an (tahun). Namanya S, itu stres. (Peristiwa terjadi) Sekitar jam 5 sore, kemudian diteriak-teriaki warga karena menarik-narik anaknya itu. Terus dilepas,” ujar Kapolres Klaten, AKBP Juli Agung Pramono, Jumat (9/2/2018).

“Anaknya setelah dilepas terus diselamatkan sama tetangga, dibawa berobat,” lanjutnya.

Kapolres Klaten menyatakan kalau yang bersangkutan tidka diproses hukum karena mengalami gangguan jiwa.

”Suaminya atau ayah dari anak itu juga nggak lapor. Itu kan stres, tetangga dan keluarganya sudah tahu kalau dia (S) itu stres. Orang stres, gila kan nggak bisa diproses,” tutur Juli.

Ibu Seret Anaknya

Seorang ibu di Klaten Jawa Tengah tega menyeret anak perempuannya menggunakan sepeda motor.

“Anaknya Cuma lecet-lecet biasa. Ke rumah sakit diobati. Terus dibawa pulang,” tambah Juli.

Aksi penganiayaan yang dilakukan orang stres, depresi dan sejenisnya belakangan marak terjadi. Bahkan, teror orang gila tak cuma melukai tapi juga berakibat fatal hingga menghilangkan nyawa orang lain.

Seperti yang dialami KH Umar Basri (Pimpinan Pondok Pesantren Al Hidayah Cicalengka) dan ustad Purwoto (Komandan Brigade Persatuan Islam) belum lama ini.

Pada 27 Januari 2018, KH Umar tiba-tiba dipukul saat berada di dalam masjid. Akibat kejadian tersebut, wajah ulama berusia 60 tahun itu berdarah-darah. Selang seminggu, kasus penganiayaan ulama oleh orang gila terjadi lagi.

Komandan Brigade Pimpinan Pusat Persatuan Islam (Persis), Ustad Prawoto (40) meninggal usai dianiaya oleh seseorang berinisial AM (45) di kediamannya Blok Sawah RT 01/03 Kelurahan Cigondewah Kidul Kecamatan Bandung kulon, Bandung, Kamis (1/2) pagi.

Ustaz Prawoto Meninggal

Ustaz Prawoto meninggal akibat dianiaya. (Istimewa)

Korban sempat dilarikan ke Rumah Sakit Santosa, Kopo Bandung untuk mendapatkan perawatan yang intensif. Namun, takdir bercerita lain hingga akhirnya korban menghembuskan nafas terakhir.

Kapolrestabes Bandung, Kombes Pol Hendro Pandowo mengatakan kronologis kejadian yaitu pelaku menggedor rumah korban kemudian ditegur oleh korban. Namun, kemudian pelaku mengejar korban sambil membawa potongan pipa besi, pada saat korban dikejar terjatuh.

“Pelaku memukuli korban beberapa kali yang mengakibatkan korban mengalami luka patah tangan kiri dan luka terbuka pada kepala,” ujarnya

Lantaran banyaknya kasus teror orang gila, di Tasikmalaya polisi sampai menggelar razia terhadap orang gila. Hasilnya dari tujuh orang gila yang diamankan, polisi mendapati ada yang membawa snejata tajam

Kepala Kepolisian Resor Tasikmalaya Kota AKBP Adi Nugraha mengatakan, razia gabungan itu memprioritaskan penertiban orang gila di jalanan yang disinyalir dapat mengganggu kenyamanan masyarakat.

“Targetnya ialah orang-orang yang diduga mengalami gangguan jiwa,” kata Adi, Kamis (8/2).

Ia menuturkan, operasi orang yang dicurigai gila itu sebagai tindak lanjut antisipasi Kepolisian terkait munculnya kasus penganiayaan dengan pelakunya mengalami gangguan jiwa.

Sasaran petugas orang yang berkeliaran tidak jelas, menderita sakit jiwa dan tidak ada tempat tinggalnya.

“Ini tindak lanjut situasi keamanan saat ini dengan menertibkan orang-orang yang dicurigai gila, sakit jiwa dan keluyuran tidak punya rumah,” katanya.

Orang Gila Bakar Diri, Lalu Ceburkan Diri ke Kawah Gunung Pancar

Tak hanya menyakiti orang lain, orang-orang depresi yang tinggal di tengah masyarakat juga kerap menyakiti diri sendiri.

Di Kampung Cimandala RT 01/07, Desa Karang Tengah, Kecamatan Babakan Madang, Kabupaten Bogor, Rahmat (35) nekat menceburkan diri setelah membakar diri.

Menurut Mubarok, tetangganya, korban sudah lama mengalami gangguan jiwa lantaran diduga engalami depresi karena persoalan rumah tangga.

“Iya sudah lama gangguan jiwa, katanya memang karena urusan rumah tangga,” ujarnya.

Kawah gunung Pancar

Warga mengevakuasi korban yang tercebur ke kawah Gunung Pancar

Sebelum menceburkan diri, kata dia, Rahmat rupanya sudah beberapa kali mencoba melakukan perbuatan sama namun gagal lantaran keburu ditolong warga.

Saat itu, ia mencoba bunuh diri dengan cara menyiramkan bensin ke tubuhnya lalu membakar dirinya di dekat rumahnya.

“Iya terus disiram sama warga dan keluarganya,” terangnya.

Setelah api padam, lanjutnya, Rahmat kemudian langsung lari ke arah kawah merah. “Sesampainya di kawah merah korban langsung lompat ke dalam kawah jadi tidak keburu dikejar dan di lokasi juga saat itu lagi sepi,” pungkasnya.

(metropolitan/pojoksatu)


loading...

Feeds