Kembangkan Beras Organik, Bantu Petani Sejahtera

Ahmed Tessario Eka Nuramanta

Ahmed Tessario Eka Nuramanta

Masyarakat petani khususnya beras, beberapa waktu lalu menghadapi berbagai masalah. Tidak hanya memasarkan hasil panen, mereka juga mengalami kesulitan untuk mendapatkan kebutuhan pertanian lainnya. Karena itulah, seorang pemuda bernama Ahmed Tessario Eka Nuramanta tergugah melakukan sesuatu hingga petani di sekitar tempat tinggalnya mengalami perubahan dan keluar dari masalah.

Laporan : Omer Ritonga    

Untuk perubahan tidak bisa berdiam diri dan berpangku tangan. Harus memulai dan mencari solusi agar menjadi lebih baik. Seperti yang dilakukan Ahmed Tessario Eka Nuramanta.

Sarjana teknik kimia Insitut Teknologi Sepuluh November itu mengaku prihatin melihat petani selalu menghadapi masalah, seperti mendapatkan pasokan benih atau bibit, pupuk, tenaga kerja, modal.

Bahkan setelah panen, petani masih menghadapi masalah terkait pasar dan harga jual yang selalu rendah. Karena itulah, Ahmed memilih menjalankan usaha beras yang diberi nama Sirtanio.

Dia mulai mencari dan membuat solusi yakni sekitar 2010 di Banyuwangi, Jawa Timur yakni memproduksi beras merah organik. “Dari situ mulai membuat sistem pertanian terintegrasi,” ujar Ahmed kepada Radar Bogor.

Juara satu bidang industri, perdagangan dan jasa kategori alumni dan mahasiswa S2 Wirausaha Muda Mandiri (WMM) itu menjelaskan sistem yang diterapkan Sirtanio yakni memberikan pinjaman benih, pupuk sebagai modal untuk memulai menanam serta tenaga kerja. Setelah petani panen, maka hasilnya akan dibeli dengan harga yang lebih dari harga tengkulak. “Perbedaan harga sampai 20 sampai 30 persen. Petani bisa lebih mandiri dan mampu meningkatkan produktifitas lahan,” imbuhnya.

Sesuai dengan tujuan awal, untuk menghasilkan beras organik yakni tanpa menggunakan bahan-bahan kimia. Proses pun terus berjalan, mulai dari sosialisasi, membuat lahan demplot, penanaman hingga panen. Tim bahkan tidak hanya sekadar memberikan bibit atau benih saja, melainkan pendampingan kepada petani setiap satu minggu sekali.

Alhasil petani tidak lagi menghadapi masalah dan dapat menjual hasil panen dengan harga tinggi. Mereka juga tak lagi merugi bahkan menjadi sejahtera. Tak hanya itu, hasil tani dari waktu ke waktu selalu meningkat. Saat ini perhektar, petani organik sudah bisa menghasilkan hasil panen 5,5 ton.

“Jenis beras yang dikembangkan juga terus bertambah. Dari tahun pertama panen, sekitar 2012 hingga saat ini ada 9 jenis beras,” bebernya.

Sembilan jenis beras terdiri dari beras merah, beras putih, beras hitam melik, beras hitam pekat, beras coklat, tepung beras merah, tepung beras noutih. Jenis lainnya yakni beras germinasi merah, beras germinasi coklat, sereal beras merah. “Yang menjadi unggulan beras merah. Saat ini penjualan 85 persen masih beras merah,” tambahnya.

Ahmed menjelaskan produksi terus meningkat. Pada 2012 sekitar 10 ton per tahun dengan omset Rp170 juta. Kemudian di 2013 sampai 2014, produksi mencapai 89 ton dengan omset Rp1,46 miliar. Lalu di 2015 sampai 2016 produksi meningkat menjadi 350 ton dengan omset Rp5,95 miliar.

“Produk dengan merk Seblang Banyuwangi disitribusikan di Jawa Timur, Bali, Sumatera, Jawa Tengah dengan total 94 distributor (kecamatan dan kabupaten),” ungkapnya.

Saat ini, kata Ahmed, lahan produksi ada di 5 daerah dan terpusat di Jawa timur yakni Banyuwangi, Bondowoso, Lumajang, Jember dan Situbondo. Tak hanya itu Mitra Petani kini mencapai 143 petani dengan 128 hektar lahan organik yang diberdayakan. (pojoksatu)



loading...

Feedss